Tujuan kumpulan puisi online PBKS ini diwujudkan adalah untuk memartabatkan bahasa melayu kebangsaan dan bahasa nusantara di samping mengeratkan silaturrahim dan ukhuwah dalam dunia penulisan melayu nusantara di maya.Salam persaudaraan serumpun buat semua.
Pihak kami sangat menghargai karya-karya yang dikongsikan di sini. Oleh yang demikian,sebarang pengeluaran semula karya haruslah merujuk dan mendapat keizinan pihak admin terlebih dahulu.
Pihak kami sangat menghargai karya-karya yang dikongsikan di sini. Oleh yang demikian,sebarang pengeluaran semula karya haruslah merujuk dan mendapat keizinan pihak admin terlebih dahulu.
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
Aku berdiri di pinggir jalan yang masih dibasahi sisa hujan menjelang senja tadi. Jalanan sudah sepi, menyisakan kesepian yang menyenangkan ini. Angin malam yang dingin menyegarkan, membawaku ke tepi alam khayal.
Lampu jalan yang berwarna kuning memantul di genangan air yang masih ada sedikit.
Seperti terakhir kali aku berjalan bersamamu.
Kita baru saja kembali dari menonton filem bersama. Kita sudah memutuskan untuk berjalan saja menikmati udara segar setelah hujan turun malam itu. Kau dan aku berjalan bersama, di keheningan malam, setelah hujan yang menghajar tanpa henti sepanjang sore dan senja membawa angin dingin. Membuatmu menggigil. Membuatku ingin memelukmu untuk memberikan kehangatan cinta. Itu cuma rasaku kerana kau sudah tercetak jauh dalam relung hatiku yang paling dalam.
Ini tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Matamu tak pernah memberikan pijar cinta yang aku tunggu selama ini. Tapi kebersamaanku bersamamu, setiap detiknya adalah kebahagiaan bagiku. Betapa hati ini tak pernah berhenti mengucapkan cinta.
Kau mengingat seseorang.
Dan orang itu bukanlah aku.
Tapi aku tak peduli. Aku tak pernah peduli. Cukup melihatmu bahagia, itu adalah kebahagiaan bagiku.
“Apa yang kau lihat dariku?” Suaramu yang lirih lembut itu bagaikan mimpi yang menyelinap dalam bilik kenanganku.
“Aku melihat cinta,” Aku menatapmu. "Yang aku tahu bukan milikku"
“Kau serius?” Kau melirikku sambil tersenyum.
“Kau pernah melihat aku lebih serius dari ini?” Aku tersenyum. “Kau lihatlah mataku.”
Kita berhenti berjalan. Berdiri berhadapan. Betapa jauhnya jarak antara dua hati ini. Kita bertatapan. Matamu yang lembut menatapku.
“Apa yang kau lihat dariku,” aku menatapnya nakal.
Dia terdiam. Menatap mataku tak berkedip.
“Aku melihat cinta.” Dia berkata lembut. “Cinta yang sepenuhnya milikku.”
Aku tertawa, menahan pilu.
Kau tersenyum. Senyum yang tak pernah dapat aku mengerti.
“Aku akan menikahi orang lain.” Dia berpaling. “Jom, jalan lagi. Jalan bersamamu selalu menjadi saat-saat menyenangkan bagiku.”
Kita kembali berjalan. Menyusuri kesepian yang khas, setelah hujan turun.
“Berjalan bersamamu, selalu menjadi saat-saat membahagiakan bagiku.”
“Hahaaa.. kau tak pernah menyerah yaa..” Dia terkekeh geli. “Itu yang aku suka darimu. Tak pernah menyerah berusaha mendapatkanku.”
“Hahaha…” Aku terkekeh-kekeh.
Kita tertawa mengakak berdua. Untung saja jalanan sudah sepi. Di kiri adalah lapangan yang sudah sepi. Di kanan adalah tanah luas dengan taman kota yang sudah sepi.
Di dunia ini hanya ada kau dan aku.
“Sampai bila kau akan berhenti menggangguku seperti ini?” kau menatapku lagi. “Tak bolehkah cintamu kau alihkan pada lelaki lain?”
Aku terdiam.
“Aku tak boleh berhenti mengganggumu. Aku tak boleh mencintai lelaki lain.”
Angin malam tiba-tiba datang menyergap. Kulihat tubuhnya sedikit menggigil kedinginan.
Kali ini kami diam lagi. Jalanan ini sudah mulai mendekati hujungnya.
“Bintang….” Kau berhenti berjalan.
“Ya….” Aku pun berhenti.
“ Aku akan meninggalkan kota ini esok.” Kau menatap mataku. “Kalau ada waktu, kaudatanglah.”
“Aku tak akan datang.” Aku menarik nafas panjang. “Tapi aku turut berbahagia untukmu. Kau sudah memilih wanita terbaik dalam hidupmu.”
“Kau tak kecewa?”
Aku terdiam lagi. “Kau lihatlah mataku.’ Aku berkata perlahan. “adakah kekecewaan yang kau lihat di sana?”
Kau menatapku lagi. Mencari-cari kebenaran yang sudah sangat jelas ini.
“Tidak.” Kau mendesah. Lirih.
“Lantas…apa yang kau lihat?”
“Cinta yang sepenuhnya untukku.” Kau masih memandangku.
Aku masih berdiri tak bergerak. Rasanya dapat kurasakan cinta ini…yang bukan cuma satu arah saja.
“Aku mencintai orang lain,” kau berkata setelah nafasmu reda.
“Kenapa kau bernikah dengannya?” aku bertanya tak berdaya.
“Kerana aku mencintainya. Kau kan sudah tahu jawapannya.” Kau tersenyum.
Aku termangu-mangu. Rasa hampa dalam hati ini, rasanya sudah menjadi teman akrabku sejak aku jatuh cinta kepadamu.
“Esok aku akan berangkat, kembali ke tanah air." Dia berjalan lagi. “Dia sudah menungguku di sana.”
“Minggu depan kau bernikah ya…”
Kau mengangguk saja tanpa suara.
Kita berjalan hingga ke hujung jalan besar yang dilewati kenderaan. Kita masih terdiam, ketika sebuah teksi datang dan berhenti ketika aku panggil.
“Kau…” suaraku bergetar. “Selamat bernikah ya.... aku tak menghantarmu esok.”
“Terima kasih.” Kau menatapku lagi. “Anak perempuan pertamaku akan kuberi nama seperti namamu.”
Kau memandang tepat pada matamu. Lantas berpaling dan masuk ke dalam teksi tanpa berpaling lagi. Pintu ditutup, dan teksi bergerak membawamu.
Itu terakhir kali kita bertemu. Tiga tahun lalu.
Kini aku masih menyusuri jalanan ini, selepas hujan turun sepanjang sore dan senja tadi.
Rasanya dapat kulihat pantulan bayangan tentangmu dari genangan air di bawah cahaya lampu jalan yang kuning.
Aku tak tahu lagi, apakah anak perempuan pertamanya menyandang namaku.
Tapi aku tahu, ini tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Tentang cinta tanpa akhir ketika senja turun setelah hujan .
Aku melangkah perlahan, menyusuri jalan yang sepi dan dingin.
Jika Kauingin Aku Jujur
Jika kauingin aku jujur, bertemu denganmu saja aku hindari. kerana perih telah menggelandang diriku terlalu jauh, walau sungguh hati menggelinjang sepi.
Jujur saja katamu, sesekali aku mengenang segala hitam dan putih memori dari bukit hijau yang telah kau sulap menjadi gunung batu tinggi.
Jujur saja, sesungguhnya aku ingin mengubur jiwamu dengan tanah hancing dari cabukan tanganku saat rindu sekarat di balai kalbu.
Dan bila aku harus berdusta, tentang aku mencintaimu dengan sarat, pun mengutukmu dengan laknat.
~ Bintang Kartika
Bintang Dan Kamu
Telefon berbunyi, dan ini sudah ketiga kalinya, sedikit kesal kaututup dengan makian kecil. Dari balik koridor aku tertawa, bagiku itu kejadian yang lucu, kerana dirimu yang tak pernah memaki kali ini memaki seseorang.
"Salah nombor, konon! Tak kan sampai tiga kali, dari tadi duk tanya room service, ingat hotel ke rumah kita?"
“Dia mahu ngorat abang kot,” aku memancing gurauan.
“Mau kena belasah dengan isteri abang yang kuat cemburu tu,”
Aku mencebik.
Kita sama-sama tertawa.
kaukembali memegang gitar, melanjutkan lagi petikannya. Lagu Kameelia. Aku kini sudah siap menyidai kain, mendengarkan apa saja lagu dari petikan gitarmu tetap saja merdu di teligaku. Kaumenggamitku, isyarat duduk di sebelahmu.
"kenapa sayang cinta abang?" Tanyamu entah ke berapa juta kali. Kausibak rambutku yang berjuntai menutupi sebahagian pipiku ke belakang, menjelaskan wajahku seutuhnya dalam tatapanmu. Aku langsung menyandarkan kepala ke bahumu meruapkan nuansa nyaman.
"Abang sendiri, kenapa cinta Bintang?"
"Hmmm....."
"Apa ek…"
"hmmm…"
"hmmm…"
Jawapanmu dan jawapanku adalah sama, kerana kita sama-sama tidak dapat mengungkapkannya dengan kata atau kalimah apapun. Tapi selalu saja kita melewatinya setiap hari. Apa saja kamu lakukan, aku lakukan seolah kita lakukannya bersama dan kita bahagia begitu. Bahkan ciuman di koridor, sudut dapur, malah di susur perjalanan ke rumah kita pun sering kita lakukan.
Hujan hari ini, membuat garis-garis embun di kaca jendela. Bila hujan tiba dunia menjadi basah dan lembab, begitu pula dengan rasa, sejuk dan pekat. Suara hujan begitu khas ketika juntai-juntai air beradu dengan daun, dengan pohon, dengan atap, ataupun dengan aliran jalan aspal. Bau tanah menguap ke angkasa, saat seperti berada sangat dekat dengan kehidupan.
kausuka duduk setengah berjongkok di teras, menikmati titis jatuhnya air. Kadang terdiam sepanjang waktu itu sambil memelukku. Kadang kausangat serius mengamati halaman-halaman buku tebal yang tak kumengerti isinya. Namun aku tetap kau inginkan dekat denganmu, meski akhirnya tertidur pulas di ribaanmu.
*****
Hari ini aku jadi merindukanmu, ketika aku berada dalam sebuah teksi yang berjalan merayap di antara kenderaan mewah yang juga merayap. Sendat, asap, panas, dan sesak, bersama puluhan wajah-wajah kuyu berkeringat liat. Terasa ingin aku melompat dan terbang secepat mungkin keluar dari kesesakan ini. Aku sering marah-marah dengan diriku mengapa aku harus diperbudak dengan kekalutan ini.
"Ahhh… kota ini sangat kejam, tidak berperikemanusian! " keluh aku suatu hari. "Kita pindah saja dari kota kejam ini, Bintang tak tahan! Macam mati separuh rasanya"
Keningmu berkerut, kau tatap mataku.
"Hmmm... mati??"
"Iya, mati separuh"
"Apanya yang mati?"
"hidup!"
"Ada pulak. Sayang kan ok saja, masih boleh jalan, masih boleh makan, minum.. dan yang penting masih boleh bercinta dengan abang, tidur berpeluk bersama, apanya yang mati?”
" Social life Bintang yang mati!"
"Oh ya?"
"Iya, bayangkan, berapa kali kita di sini bertemu orang? Berapa kali kita dapat menyapa mereka? Berapa kali kita dapat duduk bersama teman atau jiran kita sambil menikmati secangkir teh atau kopi? berapa kali, abang?"
"Hmm... berapa ya, sayang?"
"Tidak pernah…!"
"Hmmm... habis tu?"
"Iya, itulah yang Bintang maksud mati separuh."
"Lalu yang separuh lagi? Masih hidup kan?"
"Masih"
"Haa, masih kan?"
"Abang niiii… !"
Lalu kauhanya memelukku mencuba menenangkan diriku dalam rasa marahku, kaumengusap rambutku, mengucup bertalu bibirku sehingga betah bicaraku kian diam dan senyap. Sehingga aku rasakan separuh yang mati itu hidup kembali. Dan aku kembali bersemangat.
*****
"Inilah hidup," Katamu suatu hari sambil kaumeneguk espresso di cangkir warna jingga yang tidak sengaja aku beli dari seorang lelaki tua pemilik kedai barang porselin di pinggir pasar. Entah mengapa cangkir itu sangat menarik walupun warnanya telah kusam.
"Tidak ada yang dapat luput dari keharusan untuk hidup. Mengapa orang harus bergelut tiap hari, terjebak dalam jem yang panjang, dikongkong dalam ruang pejabat yang dingin. Demikiankah mungkin orang memaknai hidup"
"Haa.. betul kan, abang? Abang sendiri sering mengeluh kerana banyak kerja menompok hingga kita tidak boleh berjalan-jalan lagi menikmati pantai yang indah, atau sekadar lepak di warung sate pakcik hujung jalan sana atau menikmati juadah bakar makcik seberang jalan rumah kita, kerana kesibukan kita?"
"Ya, itulah hidup"
"Ya, itulah kita"
"Ya, begitulah”
"Lalu bagiamnakah dengan mimpi?"
"Mimpi?"
"Iya, mimpi kita!"
"Mimpi apa?"
“Anak.”
“Anak?”
Dan tanpa memberi jawapan, kaumeluru memelukku, menggendongku ke kamar.
*****
Tidak terasa kaumulai berbicara panjang sekali, dan tatapanku tak pernah lepas dari wajahmu, setiap kata, setiap kalimat, aku dengar penuh anggukan. Kauceritakan tentang masa kecilmu yang agak degil, lucu, dan kuat bermain. Tentang sawah bendang dan kerbau, tentang kampung yang sering buat aku rindu dan cemburu. Sehingga kausedari saat ini. Seperti ini, kita telah berdua. Tak terasa kita sama-sama menghitung hari-hari yang telah kita lalui. Kita bahagia di mana saja kita kerana kita tidak pernah menjadi orang lain. Sudah berapa tempat, berapa kota, berapa pulau kita singgah kita tak pernah henti bercerita tentang laluan hidup manusia.
“kehidupan di sini sangat kotor!” kataku suatu hari
"tidak boleh sayang berkata begitu"
"kenapa pula?"
"Tidakkah sayang tahu, banyak yang kotor di dunia ini. Banyak hal, bahkan bangunan bertingkat tinggi itu, yang setiap hari memberi kita rezeki, itu juga dibangun dari perkara yang tak jauh dari kotornya"
Aku terdiam. Barangkali benar dunia ini kian hampir dengan kiamat. Kau seperti enggan memberi aku ruang berfikir lebih jauh lalu meraih pinggangku mendekap erat ke tubuhmu. Kutatap matamu yang bening. Sedang jejarimu mendongak daguku dan berkata; “Sayang, yang penting hidup kita bersih jauh dari anasir kekotoran. Dan yang paling penting kita benci akan kekotoran dan nista. Berusaha memaknai hidup harum dengan kasih Tuhan. Kerana hidup tiada erti tanpa kasih-Nya”
Aku memandangmu dengan harum cinta.
Sunyi
mengalir sunyi
ketika sepi menguap dari dada
menitis luruh dari tepi tubuh
tidak henti saat mengenangmu
mengalir sunyi dari pelupuk
menjadi gerimis menitis ke bahu
menggoncang dada
dalam dekap maha rindu
sunyi menjadi rinai
di kandang rindu tanpa atap
menggenang resah
menyengat aroma gelisah
sunyi mengalir ke dada
dari desah panjang dan sebam mata
tenggelamkan hati menyalur gelisah
kasih, apa khabar rindumu?
~Bintang Kartika
Mantera
bersila mengadap dupa
merapal, putar,
putar tangan jangan berhenti
umpama angin berpeluh pada bumi
duhai! penguasa malam yang tidak hilang tertelan pagi
duhai! malaikat dunia yang bernyawa dalam gelap
hentakkan satu kakimu saat hanya murka menjamah
oh! biduan kecil yang menjadi korban
engkau terus mengoceh meneriak gelap
aku terus berteriak menodai duniaurai,
uraikan ikatan
lepaslah!
jangan terlepas lepas
jangan dilepas lepas
bebas!
bebaslah luka.
~ Bintang Kartika
merapal, putar,
putar tangan jangan berhenti
umpama angin berpeluh pada bumi
duhai! penguasa malam yang tidak hilang tertelan pagi
duhai! malaikat dunia yang bernyawa dalam gelap
hentakkan satu kakimu saat hanya murka menjamah
oh! biduan kecil yang menjadi korban
engkau terus mengoceh meneriak gelap
aku terus berteriak menodai duniaurai,
uraikan ikatan
lepaslah!
jangan terlepas lepas
jangan dilepas lepas
bebas!
bebaslah luka.
~ Bintang Kartika
Selingkar Kisah
Lalu aku bangkit dari dudukku di sofa bertampal, hadiah dari pencuri yang aku tolong ketika mengetahui telah menyambar lima helai jeans Levi's dan dikejar orang awam juga orang suratkhabar yang tergenang amarah. Lumayan aku juga dapat bahagiannya. Sehelai. Sesuai dengan ukuran pinggangku. Walau aku tahu itu hasil curian tapi jeans tetaplah jeans, hasil curian atau tidak, ketika menempel di tubuh tetaplah pakaian yang menutup auratku.
Pencuri itu pernah bercerita kepadaku saat aku singgah ke mahligainya dan minum carlsberg berdua; ''Toast!!''. Bir itu dingin kerana pencuri itu mempunya peti ais dua pintu hasil rampasan yang lalu. Kemudian aku berkata; "Mahligaimu seperti rumah pengawai kerajaan, ada TV, astro, mp4, radio, peti ais, rak penuh buku, meja lengkap notebook dengan prosesor Intel Core 2 Extreme X6800, tempat tidur yang empuk, lukisan mahal, tumpukan CD original, dan peralatan gym. Rumahmu ini seperti rumah menteri."
Dia hanya tertawa kemudian meneguk carlsberg. Lalu aku bertanya lagi, "kau ini pencuri atau pejabat?"
Kembali jawapanmu hanya tertawa sambil memutar VCD dan oh.... itu Inul yang sedang bergoyang dan kau terlihat menikmati sekali goyangan gerudi itu. Kau mulai jujur, "lihatlah goyang gerudi itu, adalah seni goyang tingkat tinggi," katamu.
Tapi buat aku lebih menarik adalah sepak terajangmu. Kau pencuri dan kaya raya, hebat. Aku tidak jadi pencuri dan tentunya aku tidak kaya raya. Patutlah negeri ini penuh dengan pencuri kerana ternyata menjadi pencuri itu dapat memperkaya diri, menikmati hidup, bersenang-lenang, dapat membeli segala isi dunia. Tapi tentunya sebelum di 'tomoi' rakyat.
~ Bintang Kartika
Subscribe to:
Posts (Atom)