Tujuan kumpulan puisi online PBKS ini diwujudkan adalah untuk memartabatkan bahasa melayu kebangsaan dan bahasa nusantara di samping mengeratkan silaturrahim dan ukhuwah dalam dunia penulisan melayu nusantara di maya.Salam persaudaraan serumpun buat semua.

Pihak kami sangat menghargai karya-karya yang dikongsikan di sini. Oleh yang demikian,sebarang pengeluaran semula karya haruslah merujuk dan mendapat keizinan pihak admin terlebih dahulu.

PENGIRIM LEMBARAN CINTAKU ~♥


terkenang sekuntum syair
yang kau kirim
pada debur ombak
Laut Cina Selatan
saat itu
ku menangis ketakutan

ku tanyakan berulang-ulang
bercandakah tuan

jawabmu
aku memang mencintaimu

saat ini
ku ingin menentang matamu tuan
biar sorot mata kita bertemu
dengan telapak tanganku
ku ingin memukulmu sepuas hatiku
kerana katamu: mahu mati di pangkuanku
buktikan.

hehehe ..sekadar kata mengindah cuma

26042012
Melinda Nour

Pena Senja Untukmu

Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan kerana alasan duniawi dan dipisahkan di hujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan.

$r 26/04/2012

PUALAM III



di kabut rindu
aku menyerukan namamu:
seribu bayang mengitariku
tak satupun bisa kurengkuh

Banten, April 2012

Cari Ketenangan

Terpegun lihat burung yang terbang
sebab kucinta kebebasan
menari bebas melayang di angkasa
bersiul megah bersama matahari dan angin ....
saat ini udara meraba wajah dan hati
terfikir sejurus dalam melayari hidup
segalanya tak mungkin lagi
cuba melupa kenangan pudar
menyentuh rasa jauh ke dasar hati
apapun pengucapan manusia
sengsara dan jua kebahagiaan
diri menjadi lesu di sini
kutitip impian dalam diam
bisakah mendamaikan hati
kenapa ketenangan menjauh
bangun juga melangkah
semakin jauh terasa .

Yatie Yusoff
6.20pm
26 April2012.

ANTARA KELAM DAN SINAR



Akal memilih jangan tersasar
antara kelam dengan sinar
memandang ringgit mata berpinar
lalu memesong kuasa yang benar

Negara kita tempat bernaung
panji terkibar megah melaung
semangat bersatu biar diharung
benar dan nanar wajib dihitung.

Politik itu umpama berjudi
nasib rakyat wajib dipeduli
jika pemimpin tidak berhati
kemakmuran negara tidak menjadi

Pemimpin onar membawa musibah
mendabik dada merasa gagah
dalam megah membuat helah
bujur berlalu melintang patah.

Pemimpin benar pintar berakhlak
memimpin rakyat dengan bijak
maju dan jaya sentiasa digalak
mendidik bangsa tak pernah jelak.

Rakyat bijak lagi terdidik
pintar memilih pemimpin yang cerdik
berfikir dengan minda celik
harus mengkaji jasa ditilik.

Che Fauziah Idris
Kuala Kurau
Perak
26 April 2012

Surat


Di luar hujan gerimis. Gerimis bercampur angin yang menyayat kulit. Aku berharap, musim dingin tahun depan aku sudah tak berada di sini lagi. Kaupasti tahu kan keinginanku ini. Tapi kini aku tak pasti ingin terus di sini atau berkelana di daerah lain. Aku ingat sinar nakal di matamu yang menggodaku. Sejak email pertamaku yang kauterima dulu, kautahu aku tak suka musim dingin. Terlalu menggigit, terlalu banyak membawa nuansa kesedihan dalam hidup. Apalagi jika aku mengingatimu.

Seandai kauberada di sini malam ini, mungkin kita akan menikmatinyai berdua. Menatap gerimis yang jatuh di luar jendela, menatap pepohonan kering yang dihempas angin musim dingin ini. Bercerita tentang masa depan. Bercerita tentang cinta yang tak pernah padam. Bercerita tentang hati yang tak kan pernah terpisahkan. Ah! Ini cumalah angan semu yang sering bermain di benakku.

Aku duduk di pinggir jendela sekarang. Lampu  sudah kumatikan. Aku hidupkan lilin, biar suasana malam ini lebih romantis. Gambarmu yang tersenyum itu, sudah bertahun-tahun kuletakkan di meja kecil dekat tempat tidurku. Bahkan bukan sekali dua kaumeninggalkan gambar itu dan masuk dalam imaginasi mimpiku. Terlalu berlebihankah? Cinta yang dipisahkan oleh jarak, dan diuji oleh waktu seperti yang kita bina ini, memang memerlukan lebih dari sekadar kesabaran menjalaninya.

Dari langit mula berjatuhan bunga-bunga salji yang putih bersih laksana kapas. Indah sekali. Salji turun lebih cepat dari yang kuduga. Apakah air dan salji berbeda nilainya? Apakah cinta dapat berubah nilainya sebagaimana salji berubah menjadi air? Jika kautanyakan padaku, jawapanku adalah tidak. Cintaku padamu tak pernah berubah. Tidak oleh jarak yang jauh ini. Tidak juga oleh waktu yang kejam ini. Cintaku abadi untukmu. Cinta yang tak akan pernah dapat kauukur sedalam apa. Ahh..., aku yakin kautelah tahu itu. Walaupun sejak setahun terakhir ini frekuensi   komunikasi kita sudah sangat jarang, tapi cintaku tidaklah berkurang. Aku cuba memahami bahawa kaumungkin sibuk dengan study.

Aku sejak siang tadi sudah membongkar puluhan surat-surat darimu yang rapi kusimpan sejak aku berada di sini. Surat-surat penuh kerinduan di awal perpisahan kita dulu. Suratmu yang dulu datang setiap dua minggu selain emailmu kepadaku. Suratmu yang dituliskan di atas kertas harum berwarna merah jingga dengan sepasang merpati yang bercumbu di sudut atasnya dan tulisan Endless Love yang mencerminkan cinta yang kita pelihara. Aku baca sejak siang tadi, semuanya. Jadi mohon maaf, kalau sekarang ini surat-suratmu berantakan di lantai kamarku, di atas ranjang, di meja.

Dan surat terakhir darimu, sedang kupegang. Aku tak ingin melepaskannya, kerana aku tahu kau sangat berharga bagiku. Masih dengan warna yang sama, merah jingga. masih dengan lambang yang sama, sepasang merpati yang sedang bercumbu mesra, dan tulisan Endless Love yang sama di bawahnya.

Apakah ini adalah nostalgia? Apakah ini menegaskan dan memperkuat komitmen yang kita bina? Waktu menjadi musuh yang sangat kejam dalam menguji komitmen kita. Jarak, menjadi penentu sejauh mana kita dapat bertahan menjaga harapan-harapan kita.

Di luar salji melayang turun dengan sangat lembutnya. Indah sekali. Lilin ini masih kena sedikit angin dari luar, yang menyelinap dari sela-sela daun jendela yang kubuka sedikit. Cahayanya bermain, mempermainkan bayangku. Alangkah rapuhnya sinar lilin ini. Tahukan kau filosofi lilin dalam memberikan cahaya penerang ini? Itulah filosofi para pencinta sejati. Membakar dirinya sendiri, agar dapat memberikan cahaya dan kehangatan kepada orang yang mereka cintai. Membakar diri sendiri, untuk memberikan sepercik api cinta yang sangat rapuh yang dapat saja padam setiap saat ketika ditiup angin dingin tak kenal kasihan seperti malam ini.

Dan surat terakhirmu ini..., surat yang masih berwarna sama dengan surat-suratmu yang penuh kata cinta dan rindu dulu. Warna merah jingga. Aku dulu sempat protes kan? Aku suka warna biru, kerana biru adalah keabadian, biru adalah lambang kesetiaan. Aku ingin cinta kita abadi. Tapi kausuka warna merah, yang melambangkan ghairah cinta tak pernah padam. Dan sepasang merpati itu, bukankah berarti cinta yang tak pernah ingkar janji?

Kaumemang tak ingkar janji. Kerana kaumemang tak pernah berjanji. Puluhan suratmu telah kubaca berulang, dan tak ada janji yang kautawarkan. Cintamu, memang tak pernah ingkar janji.Barangkali cuma aku yang terlalu menagih janji.

Aku termenung menatap ke luar jendela. Cinta memang tidak harus memiliki. Cintaku sedia menerima apapun yang kau berikan kepadaku.

Perlahan, aku membuka sampul. Kukeluarkan surat indah di dalamnya. Surat yang sudah dirancang dengan sangat teliti. Membukanya kembali, menatap isi yang sama seperti yang kulihat saat suratmu ini kuterima siang tadi. Perlahan aku mendekatkan surat itu pada api lilin yang bersinar lembut. Hujung kertasnya mulai menghitam dan terbakar api lilin. Aku membaca kembali tulisan di dalamnya. Tulisan berhuruf indah dan berlapis emas.


....pernikahan anak kami....

Jejaka  dengan Dara .... 



Surat terakhirmu, yang kuterima di awal musim dingin ini, adalah surat undangan pernikahanmu. Cintaku dan penantian ini telah terbakar hangus, seperti juga kertas surat merah jingga dan sepasang merpati di dalamnya yang perlahan menjadi abu dibakar api lilin yang lemah tak berdaya ini.
Musim semiku bersamamu, telah berakhir selamanya.

Senja Nan Jingga


Untuk kesekian kali, kakinya merempuh genangan becak tar jalan yang berlubang. Malam ini terasa bertambah dingin. Lampu jalan yang lapisan kristalnya mulai nampak kotor, menambah bias keredupan malam. Sesekali tubuhnya dihentam genangan air yang tertindas roda kereta. Dia cuma membatu, sudah biasa dengan suasana pejalan kaki sepertinya. 

Di depan pintu rumah, dia termenung, memandang kayu rapuh pintu itu.  Namun untuk kesekiankali dia bangga melihat pintu itu yang masih setia menunggunya. Dan tetap setia menjaga isterinya yang terbaring tak berdaya. 
Dia masuk ke rumah yang dikuncinya dari luar, supaya dia tidak menyusahkan isterinya bangun untuk membuka pintu untuknya dan dia tidak melihat isterinya berjalan dengan seribu daya membuka pintu untuknya. 
Dia merasakan tidaklah perlu dia membangunkan isterinya, seperti malam-malam sebelumnya. 
Dia merebahkan badan di kerusi. 

"Baru pulang, bang?"   Wanita yang dicintainya itu bertanya lirih.  Wajahnya lesu dan pucat.

Dia tersenyum, dan cuba menghampiri isterinya walaupun badannya terasa ditelikung lelah yang luar biasa, dan tidak dapat beranjak dari sandaran. 

"Iya, sayang. Hmm, tadi hujan di luar lebat sangat. Sekarang sudah berhenti,"   tangannya membelai rambut isterinya yang mulai kumal. Dulu rambut Kareena yang panjang lebat dan hitam berkilat adalah salah satu keindahan yang memikatnya. 

"Baju abang basah. Ganti baju dulu. Nanti masuk angin," Kareena mencium tapak tangannya, nafas isterinya itu hangat meruap di tangannya. Dia sebak sendiri.

"Oh ya sayang..... Eh, ini ubatnya... minum dulu sayang...." dia meletakkan ubat di tangan Kareena yang lesu seperti pagi disalut mendung.

Dia melangkah ke bilik. Selama sakit isterinya selalu tidur di katil di balik almari penyekat ruangan tamu.  Dia sudah kehabisan kata untuk mengingatkan isterinya itu agar tidur di kamar. Namun Kareena selalu berdalih untuk cepat terjaga menyambutnya ketika  pulang.

Di hadapan cermin, dia cuba memandang wajahnya yang kuyu itu. Dia cuba tersenyum agar dia tahu bagaimana wajahnya jika tersenyum ketika menghadapi isterinya. Kerana dia yakin senyuman adalah satu-satunya hadiah terindah yang selalu dia berikan kepada isterinya. Paling kurang senyumannya dapat menyenangkan Kareena dan wanita itu dapat sejenak melupakan sakitnya.

"Ini senyuman paling menyakitkan, senyuman tanpa keikhlasan..."  Dengan cepat-cepat dia membuang wajahnya dari cermin setelah mengutuk dalam hati. 

Dia mengambil pakaian kering yang belum sempat dia seterika. Lalu menuju ke dapur untuk memanaskan air. Sambil menunggu air untuk kopi, kakinya melangkah di atas sejadah. Ya, dia pasrahkan semua beban ini di hadapan-NYA.

 "Tuhan... aku tidak meminta dan tidak meratap. Tuhan... aku hanya berharap agar tatapan-Mu tidak pernah alpa dalam mengawasiku." 
Tidak ada doa khusus dan tidak ada amalan khusus. Kerana pada pandangannya, doa dan amalan adalah hilangnya keikhlasan. Sebab doa dan amalan berhujung suatu yang minta balasan. Padahal ketika Tuhan memberi, hal tersebut merupakan suatu akibat dan tanggungjawab. Maka dia tidak mau main-main terhadap doa dan amalan. Dia berdoa tanpa kira bila dan di mana. Namun dia tidak lupa berdoa setiap kali selesai solat. Dia ingat kata bijak pandai ilmuan agama bahawa berdoa selesainya solat lebih dekat untuk dimakbulkan Tuhan dan dia sendiri lebih terasa hiba dan redup jiwa tatkala berdoa sesudah solat.

Suara air yang mendengung dalam didih, menyeret langkahnya meninggalkan arah kiblat tepat ketika dia sudahi doa. Dia menyediakan mug dan membancuh kopi dan satu mug teh hangat.

"Sudah minum ubat?" dia mengangkat kepala Kareena dan badan isterinya itu direbahkan untuk bersandar.

"Belum, bang. Nak  tehnya." 

Teh manis suam kuku kegemaran isterinya, diambil dan disuapkan ke mulut Kareena. Ada perasan sejuk di hati ketika dia  berbuat begitu. Ditenungnya bibir Kareena yang dulunya merah mekar kini pucat lesu seperti senja berona jingga. Mata bundarnya tersorot ke dalam, cengkung dan penuh kesihan di hatinya.

"Reena... abang mahu menemui ayah." 

"Ada keperluan apa, bang?"   Mata sayu isterinya melirik wajahnya.   Ada kecurigaan di sudut mata redup itu. 

Dia tahu selama ini dia tidak pernah menjenguk ayahnya. Setelah perkahwinannya dengan Kareena tanpa restu dan tanpa didasari keikhlasan di hati kedua orang tuanya, terutama ayahnya. Dia dan Kareena tak pernah menjenguk mereka lagi. Bukannya menaruh dendam, namun demi mengurung pertengkaran yang bakal terjadi. 

Perempuan berketurunan Punjub itu dinikahi di daerah selatan Thai, setelah berbulan memohon restu ayahnya yang tetap tidak mengizinkannya bernikah dengan alasan berketurunan kafir. Setelah bernikah dia membawa Kareen berjumpa kedua orang tuanya, tapi hasilnya mereka berdua dihalau.

''Haram keturunan kafir menjadi keturunan aku!'' Itu kata titik ayahnya. Dan dia membawa Kareena jauh ke daerah lain. Meninggalkan kerjanya sebagai pengurus di kilang ayahnya.

"Reena, maafkan abang...." dia menahan nafas. 

Matanya mencari jawapan. Tapi tak ada kalimat yang terjaring. Dan ia hanya diam dalam sunyi. Dia sedar, semenjak sakit Kareena lebih banyak diam dari bercakap. Bercakap lebih membuat batuknya berdentum-dentum.

"Reena tidak boleh sakit begini berterusan, sayang. Reena harus mendapat rawatan yang lebih baik. Abang akan pinjam duit dengan ayah." 

"Abang, Reena tidak apa-apa . Keadaan Reena sudah semakin baik. Tak perlulah abang meminjam. Reena sudah dapat bangun... huk...huk...."    Kareena mencuba menyenangkannya dengan membangkitkan badannya, namun dia tidak dapat menyembunyikan sakitnya sehingga batuknya mulai mendera. 

"Tengok tu, Reena kan belum sembuh!" Dia rebahkan badan Kareena supaya berbaring kembali. Dan dia juga turut membaringkan tubuhnya di samping Kareena. Dia meraih Kareena yang kurus kering itu ke dalam dakapannya. Batuk Kareena menyeruak ke langit-langit, menampar hibanya, mengeringkan airmatanya. 

"Abang, tidak usahlah menemui ayah kalau hanya untuk meminjam duit,’’ Kareena bersuara setelah batuknya reda.

Dia hanya membisu. Antara keraguan dan ketakutan. Keraguaan akan penerimaan ayahnya terhadap kehadiran anaknya yang hilang. Dan ketakutan akan kesihatan isterinya yang semakin parah. 
Dia mengurut perlahan belakang isterinya. Dan tanpa sedar, diselangi batuk Kareena dan rencana esok pagi yang sudah tersusun di benaknya, dia akhirnya tertidur dalam kelelahan.


*****

Halaman rumah yang sudah bertahun tidak dia singgahi, masih nampak seperti dulu. Masih kemas dan bersih kerana selalu dimanja tangan ibunya. Ibunya seorang yang rajin dan suka menghias rumah dan laman. Dia menangguk rindu pada setiap perilaku lembut ibunya.

Di halaman itu dia berhenti sejenak, dia teringat semasa kecil. Dia bermain buaian bersama adiknya di samping ayah yang sedang membetulkan letak pasu bunga kala itu. Memori indah itu bermain agak lama dibenaknya sehingga bibirnya mengorak senyum. Dengan perasaan berat, dia beranikan diri untuk menapak arah menuju pintu rumah begitu lamunan silam itu pergi dari benaknya. Sering ada kenangan setiapkali dia melangkahkan kaki di halaman rumah ini. 

"Masih ingat jalan pulang?!" Suara berat dan garau, yang lama pernah dan sering dia kenal, serta merta menghentikan langkahnya. 
Dia berpaling arahkan pandangan secara lambat menuju arah suara itu. Dia temukan wajah ayahnya tanpa gambaran rindu pada wajah tua itu. Yang ada hanya rasa asing nan hambar. Saling tidak mengenal. 

"Apa kabar, ayah... mak...?" Begitu pintu besar itu terkuak berdiri ibunya dan dan ayahnya. Dia mencuba mengakrabi sepotong hati yang beku di hadapannya. Dia menyalaminya ibunya yang kelihatan teduh dalam pilu. Dan dia cuba menyalami ayahnya pula namun tidak ada sambutan. Ah, dulu kami pernah demikian karib dalam hari-hari. Namun sekarang dia mengeluh sendiri di hati.

"Hal yang terlucu yang pernah aku dengar!" Lelaki itu serta merta membuang muka. Meneruskan herdikan bersama kejian terhadapnya. Dia seperti mayat hidup, dicaci tanpa berani menatap, dihakimi tanpa berani membela. 

"Saya perlu duit ayah... Reena sakit.. sakit tenat." 

"Semua orang perlu duit! Semua orang berkerja untuk duit." ujar ayahnya mengherdik. "Dan hanya orang yang tidak tahu diri saja yang berani mengemis duit." 

Perkataan itu membuat dia semakin melupakan niatnya, melupakan lelaki tua di hadapannya itu sebagai seorang ayah, dan melupakan dia sebagai anak yang terlahir dari darah dan daging ayahnya sendiri. Tapi setiap kali mengingat isterinya yang terdampar sakit, maka hilanglah niatnya untuk menentang! 

"Reena sakit, ayah...!" Saya mohon jasa baik ayah.... "Saya pinjam duit tidak banyak, hanya untuk kos pembedahan segera. Dan tidak lama duit itu akan saya kembalikan." 

"Lebih baik mengasihani anjing daripada...." 

"Abang, cukup!" Suara yang dia kenal datang mengherdik dari balik dapur. Ibunya berdiri dengan tangisan berat.

"Pergi... masuk ke dalam!" ayahnya memaki seorang wanita paruh baya itu, yang tidak lain adalah ibunya. 

"Dan kau... pergi dari sini! Dan jangan sesekali datang ke sini lagi!" 

Dia menatap galau. Tiba-tiba kebenciannya membuncah. Dia seperti merasakan kelahirannya adalah satu khilaf. Ya Tuhan, maafkan aku atas kesalahan ini! Dia menjadi sedar kembali dan beristighfar panjang.

Dan dia menyalahkan dirinya, kenapa dia mengabaikan larangan isterinya. 
Dia melangkah pergi, menapaki rumput halaman rumah yang menyimpan kenangan. 
Sesampai di hujung pagar, sepatah suara menghentikan langkahnya. Suara yang perlahan dikenalinya dan pernah akrab suatu waktu dulu

"Pak Jamil?!" 

"Salman, ini pemberian mak kamu." 

"Oh... rezeki dari Tuhan?" 

"Eh, kamu tinggal di mana?" 

Dia terdiam. 

"Pak Jamil, bagitahu mak, terima kasih dan sampaikan salam sayang saya juga dari Reena. Saya akan membayar secepatnya...." 

Dia berlalu secepatnya setelah menerima sampul surat yang berisi sejumlah wang yang diserahkan lelaki tua yang sudah mengabdi hampir separuh hidupnya pada keluarganya itu. Dia memegang erat sampul surat yang berisi wang itu. Wang! Wang yang diperlukannya untuk keperluan perawatan Kareena. Dia melihat senyuman ayu, pipi merah Kareena menguntum seperti dulu. Ceria dan nakal menggamit cintanya.
Dia berlari sekuatnya meninggalkan Pak Jamil.

"Salman, Salman...!" 

Tidak dihiraunya. Suara itu memanggil lagi, dan pelan-pelan hilang di persimpangan jalan menuju jalan raya.

Siang menjalar hingga ke petang
Sambil menunggu reda hujan yang tiba-tiba mengguyur tak begitu lama tadi, dia berkesempatan untuk membeli makanan kesukaan isterinya. Dia turut membeli pisang kaki, pear yang semua itu buah kesukaan Kareena. Sambil menatap kecipak air hujan yang belum reda, dia membayangkan raut wajah Kareena yang akan tersenyum manis. Sebab hari ini dia membawa pulang makanan kesukaannya, dan esok hari Kareena tidak akan di ranjang menanti dia pulang. Sebab dia akan ditemani oleh jururawat di rumah sakit! 

Dalam luruh hujan dia bersenandung dalam hati. Dan berharap hari-hari esok akan melewati hari dengan keindahan.
Hujan belum reda.
Senja yang merambat berlalu menggapai malam. Hari ini seperti kemarin. Untuk kesekian kali, dia memaksa kakinya merempuh genangan becak tar jalan yang bertambah lubangnya dari hari ke hari. Namun malam ini tidak terasa dingin. Ada semangat yang menyala yang menghangatkan badannya, meski lampu jalan masih seperti dulu dengan lapisan kristalnya mulai nampak retak, menambah kelu gelapnya malam dari hari ke hari.

Masih saja tubuhnya dihentam genangan air yang terlindas roda kenderaan.  Namun kali ini dia hanya tersenyum.  Sebab ada secercah harap yang membenderang, meski berupa noktah.  Tidak seperti malam-malam lalu.  Wajah Kareena di mana-mana. Dia ingin cepat sampai ke rumah, merenung binar mata Kareena yang malap itu dan berbisik, esok ada sinar untuknya dan mata itu akan kembali bersinar seperti masa-masa lampau. Dan pipi merah Kareena pasti akan menyerlah kembali.

Di depan pintu rumah. Dia tersenyum. Menyapa kayu rapuh pintu itu. Dia harap untuk kesekian kali, pintu itu dapat bercerita suatu waktu, dan membuatnya bangga bahawa seseorang masih setia menunggunya di rumah. Seseorang yang telah bersamanya mengharungi kehidupan yang maha berat ini. Dan namanya Kareena, isterinya yang tercinta! 
Dalam, sangat dalam harapan yang dilukiskannya. 

Di bawah lantai segelas air teh tumpah, kaca pecah berhamburan bercampur darah yang memerah kental.  Sesusuk tubuh tergeletak kaku bersandar di ranjang. Matanya memejam, namun senyumannya tetap hadir untuk menanti dia pulang. Seperti biasa! 

Pandangannya mengabur. Sekelilingnya gelap.
Dia hanya dapat mengingat kalimat yang sering dicetuskan kepada Kareena sebuah bebelan lembut: 

"Abang sudah kehabisan kata untuk mengingatkan, Reena. Sayang tidur saja di bilik, jangan menunggu abang pulang." 
Namun Kareena selalu berdalih untuk selalu cepat menyambut ketika dia pulang.