hatimu tengah berbicara
tapi tak satu hurufpun
yang engkau tuliskantentang risalah hatimu
knapa diam?
debar dan getar itu
kurasakan dengan cintaku
debar dan getar itu
kurasakan dengan rinduku
debar dan getar itu
kurasakan dengan kasihku
diam...
seribu katamu
bermain dalam benakmu
inginmu bermain dengan imajinasimu
senyumku...
menjawab...
memecah kebekuan semua kata
dan kuberlari dalam imajinasi itu
melamun jauh ke imaginasi
ilusi lakonan kita berdua
senyumanmu mencuri kecupan
di bibir mekar dahagakan rindumu
menerawang sukma jauh ke atma
jasad berganti pada nurani jiwa
tangan menyatu dalam ikrar cinta
tatapan kasih mematri kuntuman syair
ingin kuterus tersimpuh di atas
permadaini ilusi nan hakiki
di jari manis ni kausarungkan
ikatan cinta kekal abadi
ingin kuterus hikayatkan novel
kisah kita dari awal hingga akhir
bersama meniti jalurjalur perak usia
ke perjalanan destinasi keredhaanNYA
ya, lamunanku terhenti sejenak
realiti mengetuk sambil berbisik
sabar dan tawakal pada ketentuanNYA
s / n juli 2012
Tujuan kumpulan puisi online PBKS ini diwujudkan adalah untuk memartabatkan bahasa melayu kebangsaan dan bahasa nusantara di samping mengeratkan silaturrahim dan ukhuwah dalam dunia penulisan melayu nusantara di maya.Salam persaudaraan serumpun buat semua.
Pihak kami sangat menghargai karya-karya yang dikongsikan di sini. Oleh yang demikian,sebarang pengeluaran semula karya haruslah merujuk dan mendapat keizinan pihak admin terlebih dahulu.
Pihak kami sangat menghargai karya-karya yang dikongsikan di sini. Oleh yang demikian,sebarang pengeluaran semula karya haruslah merujuk dan mendapat keizinan pihak admin terlebih dahulu.
Menyambut Ramadhan
S alam dan shalawat kepada Nabi junjungan kita
E NGKAU Yang Maha Pengsih Pencipta Semesta Raya
L atihan menahan diri sebagai wujud tunduk padaNYA
A muk amarah dan tidak bertabur semena-mena
M emaafkan dan saling mengerti dasar hidup rukun sejahtera
A khlak dan budi perkerti terlahir dari hasil beribadah puasa
T abiat rakus tak berlumut di raga dan jiwa
B erdamai dengan diri sendiri, lingkungan juga terbawa suasana
E ling dan tobat menjalin persaudaraan antara sesama
R endah hati menghargai pandangan yang berbeda
I ri dan dengki tak menghiasi sikap beragama dan berbangsa
B erlapang dada walaupun dikecewakan oleh realita
A smaNYa tak pernah lepas dari ingatan dan kata
D uduk berdiri rebah memohon berkah dan perlindunganNYA
A khir hidup awal kehidupan kekal selama-lama
H indarilah tindakan yang membangkang KeAgungan Sang Pencipta
P aham mana yang hak dan yang bathil
U lah durjana dikendalikan nafsu usil
A sa tertegak tak bersikap bakil
S edekah dan amal jari'ah memupuk sikap adil
A sal ikhlas tak membuat diri menjadi kerdil
................................
18-07-2012,Tky,Jp
irwan djamaluddin
E NGKAU Yang Maha Pengsih Pencipta Semesta Raya
L atihan menahan diri sebagai wujud tunduk padaNYA
A muk amarah dan tidak bertabur semena-mena
M emaafkan dan saling mengerti dasar hidup rukun sejahtera
A khlak dan budi perkerti terlahir dari hasil beribadah puasa
T abiat rakus tak berlumut di raga dan jiwa
B erdamai dengan diri sendiri, lingkungan juga terbawa suasana
E ling dan tobat menjalin persaudaraan antara sesama
R endah hati menghargai pandangan yang berbeda
I ri dan dengki tak menghiasi sikap beragama dan berbangsa
B erlapang dada walaupun dikecewakan oleh realita
A smaNYa tak pernah lepas dari ingatan dan kata
D uduk berdiri rebah memohon berkah dan perlindunganNYA
A khir hidup awal kehidupan kekal selama-lama
H indarilah tindakan yang membangkang KeAgungan Sang Pencipta
P aham mana yang hak dan yang bathil
U lah durjana dikendalikan nafsu usil
A sa tertegak tak bersikap bakil
S edekah dan amal jari'ah memupuk sikap adil
A sal ikhlas tak membuat diri menjadi kerdil
................................
18-07-2012,Tky,Jp
irwan djamaluddin
DOSA IBU
kutarik selimut regangkan kaki, sandarkan lelah
dan pasrah. teringat petuah abah: jalanmu masih panjang
jangan kau gadaikan nafsu, jadilah bintang
.di hati abah-di hati ummah
subuh geliatkan tawanya, melibas mimpi semalam
kukunyah sarapan pagi; kitab kuning dan rapalan tasrif
duduklah segerombol karib, bermesraan kepulan asap
reguk botolbotol nikmat biadab
penghilang pekat prahara dunia
: kata mereka
sesaat ingin aku beranjak mengikuti; namun bayangan dosa Ibu mengiringi
MS-K/180712
dan pasrah. teringat petuah abah: jalanmu masih panjang
jangan kau gadaikan nafsu, jadilah bintang
.di hati abah-di hati ummah
subuh geliatkan tawanya, melibas mimpi semalam
kukunyah sarapan pagi; kitab kuning dan rapalan tasrif
duduklah segerombol karib, bermesraan kepulan asap
reguk botolbotol nikmat biadab
penghilang pekat prahara dunia
: kata mereka
sesaat ingin aku beranjak mengikuti; namun bayangan dosa Ibu mengiringi
MS-K/180712
Bukan Itu
setelah bermain-main, ditempelkan wajah imut itu di ranjang kaku
lengkapi letih menggerus. di jelang malam
lipatan percakapan-pertanyaan petang tadi, kembali menemui. bertanya di manasuara-suara beralamat
dinding pun terkesimak, membayangkan wajahnya jatuh di atas kasur. bersebelahan dengan mimpi-mimpi
yang belum diberi nama
”kapan lagi?”
2012,
lengkapi letih menggerus. di jelang malam
lipatan percakapan-pertanyaan petang tadi, kembali menemui. bertanya di manasuara-suara beralamat
dinding pun terkesimak, membayangkan wajahnya jatuh di atas kasur. bersebelahan dengan mimpi-mimpi
yang belum diberi nama
”kapan lagi?”
2012,
Setelah Puisi Bersaksi, Di Manakah Posisi?
Ibarat hidangan, puisi adalah makanan
lezat dan bergizi tidak perlu banyak cukup beberapa suap akan langsung
kenyang dan tentunya memenuhi seluruh kebutuhan tubuh. Lain hal dengan
sajian cerpen dan novel yang sememangnya berisi serangkaian kejadian
yang diburaiuraikan agar memenuhi kaidah-kaidahnya masing-masing.
Memang para penggiat dan penikmat puisi tak sebanyak cerpen dan novel namun bagaimana pun puisi memiliki keunggulan yang tak terelakkan, dengan membaca puisi satu bait contohnya, kita bisa menemukan banyak hal dari sebuah rasa, keadaan, kenyataan dan mimpi, hanya dari satu bait puisi (saja). Karena pengolahan puisi dilakukan dengan pemadatan kata yang benar-benar dipertimbangkan masak-masak, pemotongan kalimat yang amat hati-hati, tak hanya racikan bumbu, asupan gizi bahkan hal tampilan sekali pun dilakukan dengan sebaik-baiknya dan direnungkan sedalam-dalamnya sehingga masuk dalam wajan diri dan diolah dengan ruh utuh dan tersajikan penuh rengkuh. Tentu bukan tanpa masalah, karena ternyata tidak semua orang sanggup menangkap symbol-simbol yang disematkan dalam puisi, sehingga acap kali saya dapati pernyataan “Puisi bikin pusing, gw enggak ngerti!” dan naasnya berhenti sampai di sana.
Ketidakmauan pembaca menggali symbol-simbol inilah yang membuat perkembangan puisi di tanah air jadi cukup lambat, bahkan penghargaan terhadap penyair tak lagi diperhatikan walau penyair tak ingin dihargai paling tidak mendapatkan tempat yang layak dan tepat. Karena jika merunut sejarah banyak puisi yang telah menjadi saksi keberadaan manusia, menjadi cerminan zaman dan menjadi pengetahuan tentang keadaan pada masanya.
Saya ambil contoh puisi-puisi Chairil Anwar yang menampakkan keadaan yang begitu keras, seperti puisi “KARAWANG BEKASI” terlepas dari anggapan-anggapan yang bersinggungan, puisi itu sanggup memberikan gambaran betapa pada masa hidup CA Negara dalam keadaan terancam pun CA mengambil peranan dengan meletupkan semangat juang untuk mempertahankannya. Hal ini nampak dari puisi yang saya kutip berikut ini:
“Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat Berikan kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian”
Selain itu setiap kali membaca puisi-puisi Chairil Anwar, ada nada-nada suram seperti puisi “PENERIMAAN” kalimat “Sedangkan pada cermin aku enggan berbagi” selain sebagai penutup puisi di sinilah nada muram itu sungguh lekat terasa. Serta lompatan-lompatan imaji yang kerap disajikan CA menambah keyakinan saya bahwa pada masa itu tengah terjadi sebuah goncangan baik secara personal mau pun umum. Walau dalam puisi “AKU” yang kerap saya baca dalam ajang lomba baca puisi semenjak SD hingga SMA nampak menyala-nyala bahkan menyalak dan bikin pendengarnya tersedak tetap saja ada nada-nada muram itu :
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
“Dan aku akan lebih tidak peduli lagi/Aku mau hidup seribu tahun tahun lagi” pada penutup puisinya CA selalu membuat kejutan-kejutan dan saya mensinyalir kehidupan pada masa CA memang penuh dengan kejutan walau kejutan itu terasa kecut atau bisa jadi karena kehidupan yang bohemian?
Atau puisi-puisi Soe Hok Gie yang bernadakan cinta namun dalam nada-nada cinta yang begitu lembut, Gie bisa menelusupkan satire yang begitu getir. Soe Hok Gie yang mati lantaran zat beracun di gunung sumeru mendapatkan perhatian yang cukup besar tidak hanya kalangan pecinta puisi namun namanya sangat harum di kalangan aktivis mahasiswa. Pun saya sangat apresiatif dan termotivasi walau pada saat ini aktivis mahasiswa terkurung dalam cengkeraman penguasa dan lebih tergiur oleh kedudukan dan uang. (Curhat Colongan) Salah satu puisi terakhirnya Gie sanggup mengkritisi nurani dengan sajian puisi yang manis.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah,
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza,
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku disisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisi mu manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang menang
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahir
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu
Jelas terasa getir hidup dalam ketidakadilan. Jika dikaji lebih mendalam lagi, melaui puisi ini (saja) kita sudah dapat gambaran atau bahkan dapat turut merasakan keadaan pada masa itu. Bahkan banyak aktivis mahasiswa di Banten sangat mengidolakan sosoknya begitu pun di BEMNUS (Persatuan Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara) disaat mengadakan pertemuan puisi-puisi Gie kerap dibacakan.
Juga pada sajak-sajak Wiji Thukul yang keberadaan penyairnya hingga saat ini masih dipertanyakan. Antara hidup dan mati tak ada yang dapat memastikan keberadaannya. Puisi-puisi Wiji Tukhul sangat sarat perlawanan dengan gaya bahasa yang lugas keras dan tegas. Tak aneh jika pada akhirnya Wiji Thukul disinyalir diculik dan dibuang kepengasingan oleh penguasa pada masa itu. Puisi “PERINGATAN” contohnya, kata “LAWAN” jadi kata wajib setiap kali aktivis mahasiswa melakukan aksi turun jalan sebagai seruan bagi kawan-kawannya agar tidak mundur pulang sebelum mendapatkan kemenangan. Jika diikatkaitkan dengan sejarah, pada periode 1996-1998, sejarah mencatat terjadi banyak kasus penculikan terhadap para aktivis demokrasi yang akhirnya diketahui bahwa salah satu tim penculikan adalam Tim Mawar yang dipimpin oleh seseorang yang dikenal saat ini adalah…. (Ketua Umum Gerindra). Sebagian diketahui meninggal, sebagian sudah dilepas kembali, dan sebagian statusnya tidak diketahui. Jelas dapat diambil benang merah dan dapat diamini bahwa puisi-puisi WT ditulis dalam pelarian dan persembunyian dan gambaran apa yang dapat ditangkap dari puisi-puisi WT? adalah masa pemerintaha Orde Baru yang amat otoriter dan bengis (Semoga diampuni dosa-dosanya). Dan kepada penyair mari kita baca puisi ini :
Penyair
jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas aku
akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis
dengan tetes darah!
sarang jagat teater
19 januari 1988
Apa yang dapat kawan-kawan simpulkan? Simpanlah dalam hati masing-masing pun saya akan menyimpan kesimpulan puisi ini dalam dalam di kedalaman hati.
Lantas bagaimana dengan puisi-puisi Rendra? Sajak-sajak Rendra yang menyuarakan kebebasan suara hati karena pembungkaman oleh pemerintahan Orde Baru. Membuat namanya kian berkibar di belantikan perpuisian Indonesia gaya balada dan pamphlet jadi hal yang asyik untuk ditelisik dengan gaya bahasa yang keras Rendra sanggup merangkum keadaan demi keadaan sehingga puisi benar-benar mampu menjadi saksi yang sexy (Meminjam kata Abah DAM). Untuk contoh puisi Rendra dapat dengan mudah ditemukan di Google atau di blog.
Dari kenyataan demi kenyataan yang saya paparkan, akan betapa kuatnya pengaruh penyair, bukankah semestinya puisi dan penyair ditempatkan pada tempat yang layak? Paling tidak layak di hati pembaca, bukan sebaliknya puisi dikata basi, lantaran ketidaksanggupan dan ketidakmauan masyarakat mendalami puisi. Hal ini bisa jadi lantaran masyarakat Indonesia lebih suka yang dangkal-dangkal (Percaya?).
Demikianlah esai ini saya tulis ala kadarnya, menguak keberadaan puisi dan penyair. Walau tak seluruh sisi saya kupas, lantaran waktu yang dipunya tak cukup banyak. Semoga ini bisa jadi cerminan dan memberi manfaat paling tidak bagi saya sendiri.
Salam Sayang Selalu
Cilegon-Banten
05-06-2012
Memang para penggiat dan penikmat puisi tak sebanyak cerpen dan novel namun bagaimana pun puisi memiliki keunggulan yang tak terelakkan, dengan membaca puisi satu bait contohnya, kita bisa menemukan banyak hal dari sebuah rasa, keadaan, kenyataan dan mimpi, hanya dari satu bait puisi (saja). Karena pengolahan puisi dilakukan dengan pemadatan kata yang benar-benar dipertimbangkan masak-masak, pemotongan kalimat yang amat hati-hati, tak hanya racikan bumbu, asupan gizi bahkan hal tampilan sekali pun dilakukan dengan sebaik-baiknya dan direnungkan sedalam-dalamnya sehingga masuk dalam wajan diri dan diolah dengan ruh utuh dan tersajikan penuh rengkuh. Tentu bukan tanpa masalah, karena ternyata tidak semua orang sanggup menangkap symbol-simbol yang disematkan dalam puisi, sehingga acap kali saya dapati pernyataan “Puisi bikin pusing, gw enggak ngerti!” dan naasnya berhenti sampai di sana.
Ketidakmauan pembaca menggali symbol-simbol inilah yang membuat perkembangan puisi di tanah air jadi cukup lambat, bahkan penghargaan terhadap penyair tak lagi diperhatikan walau penyair tak ingin dihargai paling tidak mendapatkan tempat yang layak dan tepat. Karena jika merunut sejarah banyak puisi yang telah menjadi saksi keberadaan manusia, menjadi cerminan zaman dan menjadi pengetahuan tentang keadaan pada masanya.
Saya ambil contoh puisi-puisi Chairil Anwar yang menampakkan keadaan yang begitu keras, seperti puisi “KARAWANG BEKASI” terlepas dari anggapan-anggapan yang bersinggungan, puisi itu sanggup memberikan gambaran betapa pada masa hidup CA Negara dalam keadaan terancam pun CA mengambil peranan dengan meletupkan semangat juang untuk mempertahankannya. Hal ini nampak dari puisi yang saya kutip berikut ini:
“Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat Berikan kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian”
Selain itu setiap kali membaca puisi-puisi Chairil Anwar, ada nada-nada suram seperti puisi “PENERIMAAN” kalimat “Sedangkan pada cermin aku enggan berbagi” selain sebagai penutup puisi di sinilah nada muram itu sungguh lekat terasa. Serta lompatan-lompatan imaji yang kerap disajikan CA menambah keyakinan saya bahwa pada masa itu tengah terjadi sebuah goncangan baik secara personal mau pun umum. Walau dalam puisi “AKU” yang kerap saya baca dalam ajang lomba baca puisi semenjak SD hingga SMA nampak menyala-nyala bahkan menyalak dan bikin pendengarnya tersedak tetap saja ada nada-nada muram itu :
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
“Dan aku akan lebih tidak peduli lagi/Aku mau hidup seribu tahun tahun lagi” pada penutup puisinya CA selalu membuat kejutan-kejutan dan saya mensinyalir kehidupan pada masa CA memang penuh dengan kejutan walau kejutan itu terasa kecut atau bisa jadi karena kehidupan yang bohemian?
Atau puisi-puisi Soe Hok Gie yang bernadakan cinta namun dalam nada-nada cinta yang begitu lembut, Gie bisa menelusupkan satire yang begitu getir. Soe Hok Gie yang mati lantaran zat beracun di gunung sumeru mendapatkan perhatian yang cukup besar tidak hanya kalangan pecinta puisi namun namanya sangat harum di kalangan aktivis mahasiswa. Pun saya sangat apresiatif dan termotivasi walau pada saat ini aktivis mahasiswa terkurung dalam cengkeraman penguasa dan lebih tergiur oleh kedudukan dan uang. (Curhat Colongan) Salah satu puisi terakhirnya Gie sanggup mengkritisi nurani dengan sajian puisi yang manis.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah,
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza,
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku disisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisi mu manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang menang
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahir
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu
Jelas terasa getir hidup dalam ketidakadilan. Jika dikaji lebih mendalam lagi, melaui puisi ini (saja) kita sudah dapat gambaran atau bahkan dapat turut merasakan keadaan pada masa itu. Bahkan banyak aktivis mahasiswa di Banten sangat mengidolakan sosoknya begitu pun di BEMNUS (Persatuan Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara) disaat mengadakan pertemuan puisi-puisi Gie kerap dibacakan.
Juga pada sajak-sajak Wiji Thukul yang keberadaan penyairnya hingga saat ini masih dipertanyakan. Antara hidup dan mati tak ada yang dapat memastikan keberadaannya. Puisi-puisi Wiji Tukhul sangat sarat perlawanan dengan gaya bahasa yang lugas keras dan tegas. Tak aneh jika pada akhirnya Wiji Thukul disinyalir diculik dan dibuang kepengasingan oleh penguasa pada masa itu. Puisi “PERINGATAN” contohnya, kata “LAWAN” jadi kata wajib setiap kali aktivis mahasiswa melakukan aksi turun jalan sebagai seruan bagi kawan-kawannya agar tidak mundur pulang sebelum mendapatkan kemenangan. Jika diikatkaitkan dengan sejarah, pada periode 1996-1998, sejarah mencatat terjadi banyak kasus penculikan terhadap para aktivis demokrasi yang akhirnya diketahui bahwa salah satu tim penculikan adalam Tim Mawar yang dipimpin oleh seseorang yang dikenal saat ini adalah…. (Ketua Umum Gerindra). Sebagian diketahui meninggal, sebagian sudah dilepas kembali, dan sebagian statusnya tidak diketahui. Jelas dapat diambil benang merah dan dapat diamini bahwa puisi-puisi WT ditulis dalam pelarian dan persembunyian dan gambaran apa yang dapat ditangkap dari puisi-puisi WT? adalah masa pemerintaha Orde Baru yang amat otoriter dan bengis (Semoga diampuni dosa-dosanya). Dan kepada penyair mari kita baca puisi ini :
Penyair
jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas aku
akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis
dengan tetes darah!
sarang jagat teater
19 januari 1988
Apa yang dapat kawan-kawan simpulkan? Simpanlah dalam hati masing-masing pun saya akan menyimpan kesimpulan puisi ini dalam dalam di kedalaman hati.
Lantas bagaimana dengan puisi-puisi Rendra? Sajak-sajak Rendra yang menyuarakan kebebasan suara hati karena pembungkaman oleh pemerintahan Orde Baru. Membuat namanya kian berkibar di belantikan perpuisian Indonesia gaya balada dan pamphlet jadi hal yang asyik untuk ditelisik dengan gaya bahasa yang keras Rendra sanggup merangkum keadaan demi keadaan sehingga puisi benar-benar mampu menjadi saksi yang sexy (Meminjam kata Abah DAM). Untuk contoh puisi Rendra dapat dengan mudah ditemukan di Google atau di blog.
Dari kenyataan demi kenyataan yang saya paparkan, akan betapa kuatnya pengaruh penyair, bukankah semestinya puisi dan penyair ditempatkan pada tempat yang layak? Paling tidak layak di hati pembaca, bukan sebaliknya puisi dikata basi, lantaran ketidaksanggupan dan ketidakmauan masyarakat mendalami puisi. Hal ini bisa jadi lantaran masyarakat Indonesia lebih suka yang dangkal-dangkal (Percaya?).
Demikianlah esai ini saya tulis ala kadarnya, menguak keberadaan puisi dan penyair. Walau tak seluruh sisi saya kupas, lantaran waktu yang dipunya tak cukup banyak. Semoga ini bisa jadi cerminan dan memberi manfaat paling tidak bagi saya sendiri.
Salam Sayang Selalu
Cilegon-Banten
05-06-2012
Tips Menulis Fiksi Mini
1. Temukan kalimat inti dari yang ingin disampaikan.
contoh: Buku adalah jendela dunia.
contoh: Buku adalah jendela dunia.
2. Dramatasisasi.
Menyembunyikan maksud dari Kalimat Inti ke dalam kalimat-kalimat lain
sehingga kalimat tersebut "menyiratkan" makna ke arah Kalimat Inti yang
ingin disampaikan.
Contoh:
kalimat inti:
Buku adalah jendela dunia.
fiksi mini:
Aku telah melihat dunia. Namun semua hilang ketika Ayah pulang dan membakar bukuku di ujung petang.
Dan aku...
tak bisa lagi melihatnya, karena duniaku telah kehilangan jendela.
Oleh : Aras Sandi 19 Jun 2012 (20:54), Laman Facebook PBKS
Tadzkirah : Menjauhi Prasangka Buruk
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....” dengan mengawali ucapan salam dan menyitir hadist panjang, “..............Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadits Rasulullah SAW:-
“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena berprasangka buruk itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.”
Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” Dirawi oleh (Bukhari dan Muslim).
Berprasangka buruk atau dengan istilah yang lain adalah shuudzon lawan dari khusnudzon, sesuatu yang wajib dihindari, karena sifat ini sangat dilarang oleh agama dan bila dilakukan akan berdosa. Apabila saat berprasangka buruk terhadap saudara kita sesama muslim lantas sama sekali tidak mau menolong saat saudara kita sangat membutuhkannya, sedang saudara kita itu tidak seperti yang dipersangkakannya. Kecurigaan yang berlebihan, apalagi sampai menuduh tanpa dibarengi bukti yang kuat akan menjurus pada berbuatan fitnah. Makanya saudara-saudaraku sekalian, para jamaah masjid, sampaikanlah apa yang sedang kita bahas ini pada saudara kita yang lain untuk tidak dengan gampang berprasangka buruk.”
Sebagaimana Alquran menerangkan dalam ayat dua belas pada surah (Al Hujurat) yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.”, jadi, persangkaan yang dimaksud di sini yang merupakan perbuatan dosa adalah persangkaan buruk terhadap sesuatu, karena sangat berkemungkinan menjurus pada tuduhan yang tak beralasan.
Lebih baik bila kita biasakan selalu berprasangka yang baik-baik saja, selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian dan selalu tawaddu’, rendah hati, selalu menunduk, melihat orang-orang yang lebih rendah dari pada kita agar kita selalu pandai bersyukur. Sebagai akhir dari pengajian kita kali ini coba kita menyimak hadist ini, Rasulullah SAW, bersabda :-
“Sesungguhnya ada orang yang secara lahiriah terlihat berbuat amal ahli surga, padahal ia ahli neraka. Dan ada seseorang yang secara lahiriah ia berbuat amal ahli neraka, padahal ia ahli surga. ” dari (Bukhari dan Muslim).
Billahittaufiq walhidayah, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
28 Jun 2012
“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena berprasangka buruk itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.”
Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” Dirawi oleh (Bukhari dan Muslim).
Berprasangka buruk atau dengan istilah yang lain adalah shuudzon lawan dari khusnudzon, sesuatu yang wajib dihindari, karena sifat ini sangat dilarang oleh agama dan bila dilakukan akan berdosa. Apabila saat berprasangka buruk terhadap saudara kita sesama muslim lantas sama sekali tidak mau menolong saat saudara kita sangat membutuhkannya, sedang saudara kita itu tidak seperti yang dipersangkakannya. Kecurigaan yang berlebihan, apalagi sampai menuduh tanpa dibarengi bukti yang kuat akan menjurus pada berbuatan fitnah. Makanya saudara-saudaraku sekalian, para jamaah masjid, sampaikanlah apa yang sedang kita bahas ini pada saudara kita yang lain untuk tidak dengan gampang berprasangka buruk.”
Sebagaimana Alquran menerangkan dalam ayat dua belas pada surah (Al Hujurat) yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.”, jadi, persangkaan yang dimaksud di sini yang merupakan perbuatan dosa adalah persangkaan buruk terhadap sesuatu, karena sangat berkemungkinan menjurus pada tuduhan yang tak beralasan.
Lebih baik bila kita biasakan selalu berprasangka yang baik-baik saja, selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian dan selalu tawaddu’, rendah hati, selalu menunduk, melihat orang-orang yang lebih rendah dari pada kita agar kita selalu pandai bersyukur. Sebagai akhir dari pengajian kita kali ini coba kita menyimak hadist ini, Rasulullah SAW, bersabda :-
“Sesungguhnya ada orang yang secara lahiriah terlihat berbuat amal ahli surga, padahal ia ahli neraka. Dan ada seseorang yang secara lahiriah ia berbuat amal ahli neraka, padahal ia ahli surga. ” dari (Bukhari dan Muslim).
Billahittaufiq walhidayah, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
28 Jun 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)