Tujuan kumpulan puisi online PBKS ini diwujudkan adalah untuk memartabatkan bahasa melayu kebangsaan dan bahasa nusantara di samping mengeratkan silaturrahim dan ukhuwah dalam dunia penulisan melayu nusantara di maya.Salam persaudaraan serumpun buat semua.

Pihak kami sangat menghargai karya-karya yang dikongsikan di sini. Oleh yang demikian,sebarang pengeluaran semula karya haruslah merujuk dan mendapat keizinan pihak admin terlebih dahulu.

Jenaka Empat Puluhan

orang kata hidup lelaki bermula bila sampai empat puluh usia
nak tipu agak-agaklah sama
rasa makin nak senja saja

siksa juga empat puluhan
multifokal rabun, kesian
spek mata mahal 'gaban'
belum warga emas, kawan!

ukuran pinggang makin besar
habis kena tukar seluar
naik tangga pun terketar
sakit urat semua keluar

tak malu, nak habaq bagi
kentut makin kuat bunyi
muka selamba tak sembunyi
loqlaq sungguh depa ni

perut boroi tak sangga
macam bunting gajah pula
dah sarat nampak gaya
tak beranak-beranak juga

syair ini syair jenaka
bukan nak kutuk sapa-sapa
samalah juga macam saya
empat puluhan juga adanya

Ibnu Din Assingkiri
19-09-2011
Bagan Lalang, Butterworth, Pulau Pinang
(c)Sanusi Din, All Rights Reserved

glosari:
habaq - beritahu
loglaq - tak senonoh
boroi - buncit
tak sangga - tak terkira

Bukan Tidak Endah



bistarikan bayu merebak syair
pesan merdu buluh perindu
menterakan madah ibunda
resapkan halus ke jiwa kami
nadanya harum berhikmah
bak pesanan rasul
yang mengasihi ummah
puisikan kuntuman berpermata
indah kata penyejuk mata
sedingin embun menekuk ranting hati
membacanya bagai meneguk arak surgawi
oborkan jiwa nyalanya berkobar
dewasa kami sudah lama mengerti
cuma berikan suntikan kata berhikmah
pemacu semangat yang sedia ada

janganlah jangan
remehkan nilai fikir
anak-anak nakal suka berlarian
berkejaran di padang kehidupan
keringat ini ilham bermatlamat

kecil jangan disangka tidak berfikir
hehee...anak-anak nakal tidak pandir


melinda nour
12062012

Al Kisah Sebuah Kitab


keliru pada sepasang mata
yang satu memandang dunia
yang satu memandang akhirat
dan ..
di antara dua keningnya
ada jalur memandang yang satu
di situ ada tersirna Kejora
yang tererat memegang Al Kitab
terQalam sebuah al Kisah
yang di sana sudah terpahat
dan di sini di lakunkan jasad
dari Al Kisah sebuah Kitab........!!

 
AwaL

BerHaji Menyaksikan Arafah


pegang...
jangan tersasar
para daun merenungmu
dan cengkerik melagukan gerakmu
derap langkahmu..di simpan debu dan tanah
bayu yang menamparmu..membaca setiap nafasmu
dan bahang mentari..turut membakar amarahmu yang bergoyang
air siraman yang mendinginkan bumimu..adalah rasamu di hujung hayatmu
lepaskan...
jangan terjerat
para bisik meragukanmu
agar gerakmu di perjalanan terdiam
langkahmu melangkahlah ..setiap petalamu berdenyut
biaskan keabadianmu menjelajah setiap kamar yang berombak
dan gelora lautan..damaikan nalurimu agar lenggok perahumu tidak kecundang
dalam layar menuju Dia..akan ada Pulau tempatmu melepaskan lelah yang berpeluh
di situ...
akan
ada
Dia
Aku
Kami
dan sejadah tempat kamu berwukuf
menyaksikan Arafah...!!

 

AwaL

Aksara Cinta


puisimu melebur dukaku
dideretan panjang kata fantastis
daun yang mengering sejak semalam
tak menyurutkan embun
wahai kekasihku
butir katamu meski bukan bak kata pujangga langit
di dalam tanah pun
mampu menumbuhkan kuncup
berseri di hati pencintamu

Jemariku Membangkit Kenikmatan


Jemariku meramas dan membelai, lalu menekan dan memasukkan demi mengeluarkan bentuk-bentuk penuh keindahan. Kau ditimbus dan ditekan sedalamnya hingga menjadi keping-keping hamparan lembut.

Jemariku terus mengatur gerak tari membulatkan butir-butir manis di hamparanmu. Melimpah kemanisan di sana penuh kemewahan. Jemariku terus menolak, menahan dan menarik semula...
. Mataku memandang bawah dan ke atas terpukau dengan keindahan senyum manismu.

Jemariku meneruskan tari dan menggulung kemas dudukmu di barisan tersusun rapi , di perbatasan seperti barisan soldadu yang mau berperang.

Jemariku melakar sentuhan warna agar berseri sebelum kau pergi menghangatkan tubuhmu. Hingga sampai waktu keluarmu kutunggu dengan debaran. Adakah kau bakal harum dan menggebu?

Kubelaimu untuk merasai kehangatan yang pergi lalu membiarkanmu istirehat seketika. Kau kususun rapi berkumpulan kerana pergimu tak pernah sendiri. Kau pergi dengan kebanggaan hati. Kau dipuji kerana terhasil dari belaian jemariku yang membangkit kenikmatan.

Jemariku membelaimu dengan kasih sayang yang ikhlas sebelum kita terpisah selamanya. Kau terlalu bermakna buatku wahai Tat Jem Nenas Bergulung :))


Catatan:
Shiehartie'87
27/10/2010
foot note: Tat Jem Nenas Bergulung (Jam Tart Roll)

Prosesi Pagi



hening pagi dini jelang subuh, cinta terlabuh
sauh telah lama tenggelam, biduk tertambat salam
suluh menanti redup di penghabisan pendar cahaya
embun menanti terbunuh dalam sentuh sinar mentari

angin, memainkan dingin di pucuk bulu kuduk
dalam wajah tunduk, memijah takluk
bersimbah wudhu menangguk rindu
merinding, beku dinding membisu, ayat-ayat terlantun hikmat

hening pagi dini jelang shubuh, melahir kembali
tengadah menghadang gerimis, titik-titik menepis busik
berjalan di muka bumi, berkhatam melawan sunyi
menatap hari, mengaca diri sambil berdiang menggarang gigil

jalan legam membasah, kilau yang tergilas mata-mata silau
telusuri sisi gelap, lolosi pandang silap
nyalakan cahyamu, nyalikan sahayamu
kuda-kuda besi berlalu lalang memburu dan mendulang uang

pagi, embun terendus wangi
semalam ada yang lewat di sisinya
hingga menitipkan aroma sucinya 

Mahbub Junaedi
bumiayu, 12 jun. 12